Rumah Anak Muda penuh Ima'joe'nation

Rumah Anak Muda penuh Ima'joe'nation
Jabbawokeez, Dance Crew San Diego

01 Februari, 2014

mean -ing

Ibu, aku merindukannya. Hanya merindukannya. Mungkin aneh aku merindukan kebaikannya. Kebaikan yg pernah dia lakukan padaku. Aku hanya ingin tahu, rasa ingin tahu ku sangat tinggi apakah dia tulus melakukan dan memberikan rasa sayangnya padaku selama 100 hari itu. Aku merindukannya. Mungkin aneh aku merindukannya. Tapi itu benar, tapi aku berusaha untuk lupakan. Yah, lupakan. Lupakan semua.
Mengapa dia tega melakukan ini padaku, mengenalkan dirinya padaku. Berpura pura sayang padaku, peduli padaku. Aku merindukannya, merindukan bau tubuhnya. Merindukan pelukannya. Tak apa, bila itu tak terjadi. Aku tak marah. Sungguh. Aku baik baik saja. Dia membenciku, menjauhiku, dan aku hanya mainannya. Anak kecil yang menyusahkannya. Tak baik, tak menurut, dan juga keras kepala. Aku tahu itu.

Aku hanya sedih, aku ingin dia memelukku sekali saja. Hanya sekali. Setelah itu, tak apa. Tak apa apapun itu yang terjadi aku tak peduli. Ibu, maafkan aku. Aku tahu kau juga ibu menyayanginya. Bukan karena ia kaya, tapi karena kebaikannya. Aku hanya ingin tanya, apa selama ini ia baik padaku hanya drama, akting  dihadapan ku atau ibuku. Entahlah, aku tak tahu. Biarkan itu semua terjadi.

Aku berharap aku cepat pergi dan menghilang dari tempat ini, mencari tempat baru. Dan selamanya meninggalkan kenangan ini. Aku tak ingin mengingatnya. Tak ingin. Sungguh. Karena, ia saja sudah tak menginginkan diriku lagi. Tak menginginkan anak kecil si pembuat masalah ini. Trouble maker. Begitu burukkah aku dimatanya, sehingga aku tak membuatnya melihat kearahku.

Aku merindukan mu, aku merindukan mu. Kau dengar itu. Benar kau tak mendengarnya. Aku lupa aku aku bukan siapa siapa mu lagi. Aku tak penting bagimu. Tak berarti. Terima kasih. Terima kasih. Itu bagus. Lupakan semua. Tapi, tahukah kau. Aku ingin bicara dengan mu, menangis di hadapan mu. Aku ingin kau memelukku seperti waktu itu.

Aku tak berharap kau kembali padaku. Sungguh. Aku hanya ingin...
entahlah aku binggung. Aku tak tahu ingin apa. Namun, dadaku berdebar tiap aku mengingatmu.
Tenang saja, aku akan melupakan mu. Kau tak perlu khwatir. Aku tak Akan menganggu mu. Karna aku hanya si pembuat masalah, anak kecil yang tak tahu aturan. Aku pergi. Aku pergi bli de. Aku pergi aku pergi aku pergi bli de. Kau pasti senang aku pergi. Iya kan. Iya kan. Karna aku tahu, kau tak Pernah sedetik kau pun memikirkan ku. Mengingat ku saja kau tak ingin. Tak ada yang bisa aku lakukan sekarang. 

I just want back AGAIN. Apa bisa? i think that answer is NO!!! its OVER



PAST meaning

Aku hanya ingin setelah semua selesai, maksudnya aku telah menyelesaikan kuliah
Sarjana pertama ku, aku ingin segera pergi keluar dari palembang. Aku ingin pergi jauh sekali.
Aku ingin lupa semua yang pernah terjadi dengan kehidupan pribadi ku. Aku ingin lupa. Lupa...
Bisakah ku lakukan. Apa aku begitu menyedihkan? Aku ingin tanya, apa aku terlihat menyedihkan.
Ibu, maafkan aku. Maafkan.. Aku mohon maafkan..
ini semua salahku. Tak seharusnya aku begitu. Aku salah, aku tahu itu. Aku salah..
Jujur ibu ku tersayang, aku ingin lupakan, tapi entahlah aku tak bisa. Aku sungguh cenggeng. Sangat cenggeng. Aku saja binggung dengan diriku sekarang.

Aku ingin  aku tak pernah melihatnya lagi, seumur hidupku aku tak ingin melihatnya, bicara dengannya pun sungguh aku tak ingin. Ibu maafkan aku, aku membuat mu kecewa. Tahukah kau ibu, ada sesuatu yang ku sembunyikan dari dirimu, dia mengambil ciuman pertama ku, ibu. Aku marah, aku sangat marah. Jujur sekali aku sangat marah padanya. Aku membencinya. Itulah, aku bertekad ibu, aku tak ingin melihatnya. Aku ingin menghindar. Aku tak ingin sungguh sangat tak ingin melihat wajahnya. Aku lupakan semuanya, semuanya aku ingin lupakan. Aku bisa lupakan, aku bisa.. Aku janji ibu, aku janji ibu aku lupakan itu semua. Ku mohon ibu, maafkan anakmu ini. Maafkan..
i love you mom.

Aku menyayangi ibu, aku juga menyayanginya. Hanya saja lebih baik seperti ini, biarkan ini terjadi, biarkan aku seperti ini. Aku rasa ini hanya sementara, besok juga akan pulih. Aku yakin.

Entahlah, setelah peristiwa itu terjadi aku merasa debaran jantung ku lebih hebat dari biasanya. Sumpah, aku ingin mati rasanya. Seperti minggu kemarin, kedua kaki ku lemas, tangan ku dingin, dan seluruh badanku dingin. Tenang saja, aku sudah berdamai dengan itu. Aku sudah damai. Aku sudah lupakan. Aku hanya anak kecil, yang belum mengerti hanya saja terlalu polos terlalu percaya, sungguh aku ingin tertawa. Aku ingin cepat ini semua berlalu. Aku janji, aku berhenti untuk mengungatnya. Segala sesuatu nya akan aku tulis di sini. Ibu, terima kasih telah mendengarkan aku kali ini. Aku menyayangi mu ibu. Aku sayang padamu, maafkan aku ibu, aku tahu kau lebih terluka dari diriku. Entahlah, aku merasa kau lebih tersakiti dari diriku. Maafkan aku. Maafkan ibu..maafkan

Apa yang dapat aku lakukan, aku selalu berusaha tersenyum, dan tegar d hadapan mu. Itu sudah janjiku, aku ingin terlihat dalam keadaan baik d hadapan mu ibu, aku tak ingin kau melihat sedih ku. Aku akan menyembunyikannya. Aku sembunyikan, karna itu akan membuatmu bertambah sedih. Aku sungguh buruk ibu, aku tak pantas jadi anakmu. Aku sangat buruk.



CERPEN : Trouble in Trouble

Aku mendapat hasil yang pantas dari perkataan yang telah ku ucapkan. Aku terlalu egois, hanya mementingkan perasaan ku sendiri. Tak salah ibuku mengatakan kalau aku sangat keras kepala, seperti batu. Dia, Si GD cukup dapat memahamiku, hanya saja aku terus menambahkan genderang perang padanya. Pikiran ku kacau karena ulahku sendiri.
Tak seharusnya aku berkata, dan menuangkan isi perkataan dan hati batuku ke dalam bentuk tulisan pesan teks kepadanya. Aku sungguh ingin memotong jemariku. Jemari yang tak dapat menghentikan pikiranku untuk menuliskan huruf demi huruf, kata demi kata hingga menjadi kalimat yang nantinya menyakiti si penerima pesan teks ini.
“Bagus, kau mengabaikan ku lagi untuk kesekian kali. Terus saja abaikan aku”, kata ku
Sebenarnya, GD tergolong orang yang sabar menghadapi si kepala batu seperti ku. Bermula dari pesan singkat yang ku ketik oleh jemari terkutuk dan pikiran ku yang tak jelas isinya. Seharusnya bila kepala ku benar batu seperti kata ibuku, aku tak akan berpikir untuk memperlebar hal kecil menjadi big trouble. Namun, tak berapa lama kerasnya kepala batu ku ini, dapat ku kuasai kembali. Aku dapat meredam amarahku, dan kembali tenang. Tapi, lagi lagi pikiran dan jemariku kembali bersekongkol menguasai diriku. Kembali mengetik kata demi kata hingga menjadi kalimat panjang bak surat upeti ke liang kubur penyesalan yang nantinya aku dapatkan. Suasana yang sempat hening memanas kembali, karena ulah ku lagi. Kembali aku lagi.
Aku sungguh menyesali perbuatan ku. Aku terlalu egois. Namun, dibalik itu semua aku mendapat titik terang. Aku terlalu takut kehilangan GD. Mungkin sangat lucu, mengapa takut kehilangan seseorang, namun benar aku takut kehilangan. Aku butuh dia, sebagai kakak ku, ayahku saat ayah kandungku tak di sisiku, dan sebagai pacar yang aku sayangi.
Aku di kuasai amarahku, aku sangat ingin membenturkan kepala ku dengan batu. Hantaman yang keras. Ku rasa itu cukup adil untuk kepala batu ku ini. Sehingga batu kepalaku dapat beradu dengan batu yang asli, hingga akhirnya aku mendapati mana yang lebih keras. Aku malu pada diriku sendiri, aku tak dapat memercayai diriku. Aku percaya padanya, tapi mengapa aku ragu pada diriku sendiri. Maafkan. Hanya itu yang dapat ku katakan. Aku sungguh bodoh. Maafkan.
Maafkan