Ibu, aku merindukannya. Hanya
merindukannya. Mungkin aneh aku merindukan kebaikannya. Kebaikan yg pernah dia
lakukan padaku. Aku hanya ingin tahu, rasa ingin tahu ku sangat tinggi apakah
dia tulus melakukan dan memberikan rasa sayangnya padaku selama 100 hari itu.
Aku merindukannya. Mungkin aneh aku merindukannya. Tapi itu benar, tapi aku
berusaha untuk lupakan. Yah, lupakan. Lupakan semua.
Mengapa dia tega melakukan ini padaku,
mengenalkan dirinya padaku. Berpura pura sayang padaku, peduli padaku. Aku merindukannya,
merindukan bau tubuhnya. Merindukan pelukannya. Tak apa, bila itu tak terjadi.
Aku tak marah. Sungguh. Aku baik baik saja. Dia membenciku, menjauhiku, dan aku
hanya mainannya. Anak kecil yang menyusahkannya. Tak baik, tak menurut, dan
juga keras kepala. Aku tahu itu.
Aku hanya sedih, aku ingin dia memelukku
sekali saja. Hanya sekali. Setelah itu, tak apa. Tak apa apapun itu yang
terjadi aku tak peduli. Ibu, maafkan aku. Aku tahu kau juga ibu menyayanginya.
Bukan karena ia kaya, tapi karena kebaikannya. Aku hanya ingin tanya, apa
selama ini ia baik padaku hanya drama, akting
dihadapan ku atau ibuku. Entahlah, aku tak tahu. Biarkan itu semua
terjadi.
Aku berharap aku cepat pergi dan
menghilang dari tempat ini, mencari tempat baru. Dan selamanya meninggalkan
kenangan ini. Aku tak ingin mengingatnya. Tak ingin. Sungguh. Karena, ia saja
sudah tak menginginkan diriku lagi. Tak menginginkan anak kecil si pembuat
masalah ini. Trouble maker. Begitu burukkah aku dimatanya, sehingga aku tak
membuatnya melihat kearahku.
Aku merindukan mu, aku merindukan mu. Kau
dengar itu. Benar kau tak mendengarnya. Aku lupa aku aku bukan siapa siapa mu
lagi. Aku tak penting bagimu. Tak berarti. Terima kasih. Terima kasih. Itu
bagus. Lupakan semua. Tapi, tahukah kau. Aku ingin bicara dengan mu, menangis
di hadapan mu. Aku ingin kau memelukku seperti waktu itu.
Aku tak berharap kau kembali padaku.
Sungguh. Aku hanya ingin...
entahlah aku binggung. Aku tak tahu ingin
apa. Namun, dadaku berdebar tiap aku mengingatmu.
Tenang saja, aku akan melupakan mu. Kau
tak perlu khwatir. Aku tak Akan menganggu mu. Karna aku hanya si pembuat
masalah, anak kecil yang tak tahu aturan. Aku pergi. Aku pergi bli de. Aku
pergi aku pergi aku pergi bli de. Kau pasti senang aku pergi. Iya kan. Iya kan.
Karna aku tahu, kau tak Pernah sedetik kau pun memikirkan ku. Mengingat ku saja
kau tak ingin. Tak ada yang bisa aku lakukan sekarang.
I just want back AGAIN. Apa bisa? i think that answer is NO!!! its OVER